Nilai Ekspor Hingga Ribuan Triliun, Mentan Amran Sulaiman Bidik Hilirisasi Kelapa, Maluku Utara Jadi Episentrum

Berita, Malut, Nasional49 Dilihat

Menteri Pertanian Bersama Gubernur Maluku Utara dan Bupati Halmahera Utara melepas ekspor produk olahan kelapa (Istimewa) 

Jakarta– Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membidik hilirisasi kelapa, karena bisa meningkatkan nilai ekspor hingga ribuan triliun rupiah.

“Selain itu, hilirisasi kelapa juga menjadi cara meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah,” papar Mentan Amran di Jakarta, dikutip

Saat ini, dia bilang, nilai ekspor kelapa Indonesia mencapai Rp24 triliun. Alhasil, Indonesia menjadi produsen serta eksportir kelapa terbesar di dunia. Ini jelas akan lebih potensial jika pemerintah menggarap hilirisasi kelapa.

Jika hilirisasi dijalankan sesuai diagram pohon industri, Mentan Amran bilang, maka nilai ekspor kelapa Indonesia bisa meningkat hingga 100 kali lipat, atau setara Rp2.400 triliun.

“Sekarang ekspor kelapa kita nilainya Rp24 triliun, kita terbesar nomor satu dunia. Nah, ini kita hilirisasi, kalau sesuai diagram pohon industri itu bisa 100 kali lipat. Artinya apa, bisa Rp2.400 triliun,” ujar Mentan Amran.

Meski begitu, Amran mengungkapkan hitungan tersebut hanya secara teori. Sehingga bisa jadi hanya setengahnya, atau bahkan 20 kali lipat.

Selain itu, hilirisasi kelapa juga menurutnya mampu memperkuat rantai nilai industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja baru, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya lokal yang lebih berkelanjutan.

Mentan Amran menuturkan efek hilirisasi sudah mulai dirasakan di lapangan, salah satunya di Maluku Utara, di mana harga kelapa naik dari Rp600 menjadi Rp3.500 per butir, atau sekitar 500 persen.

Ia optimistis, harga kelapa bisa terus meningkat hingga Rp6.000 per butir, atau naik 1.000 persen, apabila seluruh rantai produksi dan pengolahan berjalan optimal secara nasional.

“Yang kami baru kunjungan di Maluku Utara, harga kelapa sebelum kita hilirisasi harganya Rp600 per biji. Sekarang Rp3.500 per biji, itu naik kurang lebih 500 persen,” ujarnya.

Dengan potensi tersebut, Amran menegaskan, hilirisasi kelapa bukan sekadar strategi industri, tetapi tonggak penting dalam membangun ekonomi rakyat dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin pasar kelapa dunia.

“Dan kita harap, harusnya harganya minimal Rp5.000 per butir. Dan bisa naik 1.000 persen harusnya. Nah, itulah keuntungan,” ujarnya. (Cr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *