Cara Menjaga Cabai Tetap Sehat di Musim Hujan

Berita, Nasional41 Dilihat

Mas Danang Petani Cabe (Istimewa) 

Setiap musim tanam selalu menghadirkan cerita baru bagi Mas Danang, petani muda yang terkenal dengan prinsipnya, setiap tanam selalu coba metode baru. Baginya, pertanian bukan sekadar rutinitas, tetapi ruang eksperimen yang terus berkembang.

Dikutip dari tulisan Karlina Indah mitra petani. Tahun ini, Mas Danang kembali membuat banyak orang terkejut. Ia menanam cabai di lahan setengah hektare, dengan total lebih dari 7.000 tanaman, di ketinggian 120 mdpl. Banyak yang mungkin akan langsung berkomentar, “Pantes saja tanamannya hijau, karena belum endemik virus.” Namun faktanya jauh dari anggapan itu.

Musim sebelumnya, justru tantangan terberat Mas Danang adalah dua penyakit yang ditakuti petani cabai: virus gemini dan patek. Dua musuh ini bisa meluluhlantakkan pertanaman dalam hitungan minggu jika penanganannya salah.

Namun di musim ini, meskipun ia menggunakan benih yang belum tahan virus, hasilnya justru membuat banyak orang mengangkat alis, tanaman tetap hijau, sehat, dan tumbuh merata dari ujung ke ujung bedengan.

Hasil ini bukan kebetulan, melainkan buah dari rangkaian inovasi dan metode baru yang kembali ia uji di lapangan. Kisah budidayanya kali ini menjadi bukti bahwa ketekunan, pemahaman karakter lahan, dan keberanian mencoba pendekatan berbeda bisa mengalahkan tantangan penyakit yang dianggap mustahil.

Dalam artikel kali ini, kita akan fokus mempelajari bagaimana cara mencegah hama dan penyakit khususnya virus kuning, layu, patek dan busuk batang sejak tahap paling awal, berikut penjelasan lengkapnya :

1. Olah lahan

Pada budidaya Mas Danang, sebagian bedengan merupakan lahan bekas yang hanya dirapikan kembali dan diberi dolomit sebagai pengatur pH. Tidak ada pupuk kimia maupun pupuk kandang yang digunakan sebagai dasaran.

Keputusan ini bukan tanpa alasan, Mas Danang memilih strategi berbeda, ia menanam di puncak kemarau dan memanen di musim hujan, sehingga kebutuhan nutrisi awal tanaman akan dipenuhi melalui program pengocoran rutin setelah tanam, bukan melalui pemberian pupuk dasar yang berlebihan. Dengan cara ini, akar tidak “dikejutkan” oleh kelebihan nutrisi di awal, sekaligus mempermudah pengendalian penyakit tular tanah.

Selain itu, jarak tanam juga menjadi perhatian penting dalam mencegah tekanan hama dan penyakit. Mas Danang menerapkan jarak 50 x 50 cm dengan pola tanam zigzag yang membuat tanaman lebih mendapat sirkulasi udara dan cahaya.

Pola ini membantu mengurangi kelembapan berlebih, terutama ketika memasuki musim hujan, sehingga risiko serangan jamur maupun bakteri dapat ditekan sejak awal. Pendekatan sederhana ini menjadi langkah awal yang kuat dalam menjaga tanaman tetap sehat hingga masa produksi.

2. Memperkuat batang cabai dengan potong pucuk dan seleksi tunas air

Tahap perawatan berikutnya dalam budidaya Mas Danang adalah potong pucuk dan seleksi tunas, dua langkah penting yang menentukan arah pertumbuhan tanaman cabai. Pada umur tiga minggu setelah tanam, pucuk utama dipotong untuk menghentikan pertumbuhan ke atas. Tujuannya jelas, mengalihkan energi tanaman agar fokus memperkuat batang bawah terlebih dahulu, sehingga struktur tanaman lebih kokoh sebelum memasuki fase produksi.

Dengan cara ini, Mas Danang tetap bisa menanam satu tanaman per lubang, namun tetap memperoleh percabangan yang ideal. Memasuki umur lima minggu, tunas–tunas kecil yang tumbuh kembali dilakukan seleksi. Tunas-tunas lemah dibuang agar tanaman hanya menyisakan percabangan terbaik yang mampu menghasilkan bunga dan buah yang sehat.

3. Mencegah Luka Jadi Sumber Infeksi

Langkah potong pucuk membawa satu konsekuensi yaitu luka pada jaringan tanaman menjadi pintu masuk favorit bagi jamur. Karena itu, setelah potong pucuk Mas Danang selalu menyemprotkan fungisida untuk melindungi area luka sebelum patogen sempat berkembang.

Selain itu ada satu strategi tambahan yang cukup unik yaitu ajir dipasang lebih dulu sebelum tanam. Apabila menanam dulu baru pasang ajir ada kemungkinan ajir merusak akar tanaan yang bisa menjadi pintu masuk infeksi jamur.

4. Pengocoran nutrisi supaya tanaman sehat dan kuat

Setelah proses tanam selesai, fokus utama Mas Danang adalah pengocoran nutrisi secara rutin satu minggu sekali hingga tanaman berumur tujuh minggu. Pada fase awal ini, tanaman cabai sedang aktif membangun akar, batang, dan percabangan, sehingga pemberian nutrisi melalui kocoran jauh lebih efektif dibandingkan pupuk dasar yang sering tidak terserap optimal.

Nutrisi cair membantu tanaman tumbuh kuat sejak dini dan mempersiapkannya menghadapi perubahan cuaca. Setelah memasuki usia dua bulan, barulah diberikan pupuk susulan untuk mendukung pembentukan bunga dan pembesaran buah. Dengan manajemen nutrisi bertahap ini, tanaman tumbuh lebih sehat, kokoh, dan siap memasuki fase produksi.

5. Pencegahan Ph drop di musim hujan

Selain pemupukan, ada satu hal yang menjadi perhatian khusus, pH tanah. Mas Danang menambahkan dolomit satu bulan sekali, baik ke lubang pupuk maupun ke permukaan tanah yang terbuka di sekitar bedengan. Tujuannya menjaga pH tetap stabil agar tanaman tetap responsif terhadap nutrisi. Sebab ketika pH turun, dua masalah besar langsung muncul, risiko serangan jamur meningkat, dan penyerapan pupuk menjadi jauh lebih rendah.

Tanaman mungkin terlihat hijau, tetapi pertumbuhannya stagnan dan mudah terserang penyakit. Dengan menjaga pH tetap ideal dan memberikan nutrisi secara bertahap sesuai fase pertumbuhan, Budidaya cabai memang penuh tantangan, namun pengalaman Mas Danang menunjukkan bahwa hasil besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Mulai dari olah lahan sederhana, potong pucuk yang tepat, hingga menjaga pH dan nutrisi semua terbukti mampu menjaga tanaman tetap sehat dan produktif. Semoga strategi ini bisa menjadi inspirasi bagi petani lain untuk terus mencoba, belajar, dan berinovasi di setiap musim. (Cr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *