BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan Tahun 2026, Ini Jadwalnya

Berita, Nasional17 Dilihat

Jakarta- Curah hujan di sejumlah daerah kini mengalami peningkatan intensitas yang cukup signifikan. Kondisi ini memicu terjadinya berbagai bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan banjir di berbagai wilayah Indonesia.

Fenomena alam tersebut terjadi karena sejumlah daerah tengah berada pada fase puncak musim hujan yang berlangsung dengan intensitas berbeda-beda.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga mencatat bahwa dinamika iklim global dan regional berperan besar dalam pola hujan yang terjadi pada periode ini.

Kombinasi La Niña lemah dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif ikut mendorong peningkatan suplai uap air ke wilayah Indonesia, sehingga hujan lebih sering dan intens di beberapa daerah.

Puncak Musim Hujan 2026 di Sejumlah Daerah Berbeda

Berdasarkan pernyataan BMKG, puncak musim hujan tidak terjadi secara serentak di seluruh Indonesia. Perbedaan karakter wilayah, topografi, dan pengaruh angin monsun menyebabkan waktu puncak hujan bergeser antarprovinsi.

BMKG menyebutkan bahwa secara nasional, puncak musim hujan 2026 berada pada rentang Januari hingga Februari. Namun, di beberapa wilayah, puncak hujan datang lebih awal atau justru lebih lambat dibandingkan daerah lain.

Pada periode tersebut, mayoritas wilayah Indonesia mengalami curah hujan dengan kategori normal hingga tinggi. Beberapa lokasi bahkan diprediksi mendapat curahan air hujan yang sangat tinggi melebihi 500 milimeter per bulan.

Curah hujan sangat tinggi terjadi di wilayah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Timur dan juga Sulawesi Selatan,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dr. Ardhasena Sopaheluwakan.

Untuk bulan-bulan berikutnya, kondisi curah hujan masih cukup tinggi di sejumlah wilayah. “Maret hingga April 2026 itu umumnya pada kategori menengah hingga tinggi, curah hujan sangat tinggi berpeluang di Jawa Tengah dan Papua Tengah,” lanjut Ardhasena.

Transisi menuju musim kemarau akan dimulai secara bertahap pada Mei hingga Juni mendatang. “Untuk bulan Mei-Juni, di mana kita secara gradual transisi ke musim kemarau umumnya (curah hujan) diprediksi pada kategori rendah hingga menengah,” kata Ardhasena.

Jadwal Puncak Musim Hujan 2026 di Sejumlah Daerah Berdasarkan data pemutakhiran November 2025, terdapat variasi waktu puncak musim hujan di berbagai provinsi:

Sumatera: Umumnya puncak hujan terjadi Februari 2026, dengan beberapa wilayah pesisir barat berpotensi hujan tinggi hingga Maret.

Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, DKI Jakarta: Januari hingga Februari 2026 menjadi fase terbasah.

Jawa Timur: Puncak hujan cenderung berlangsung Januari 2026.

Bali dan Nusa Tenggara Barat: Februari 2026, dengan sebagian wilayah mengalami pergeseran lebih lambat.

Nusa Tenggara Timur: Januari hingga Februari 2026, meski durasi hujan relatif lebih singkat.

Kalimantan: Puncak hujan dominan pada Januari 2026, dengan intensitas tinggi di wilayah tengah dan selatan.
Sulawesi: Januari hingga Februari 2026, khususnya Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

Maluku dan Papua: Sebagian wilayah mengalami puncak hujan Januari 2026, bahkan ada yang berpotensi hujan sepanjang tahun

BMKG juga mencatat bahwa durasi musim hujan di beberapa wilayah menjadi lebih pendek dibandingkan kondisi normal, sementara sebagian wilayah timur justru mengalami musim hujan yang lebih panjang.

Prediksi Curah Hujan Januari 2026
BMKG juga telah mengelompokkan curah hujan ke dalam empat kategori. Pada Januari 2026, distribusi curah hujan di Indonesia menunjukkan variasi yang beragam.

Mayoritas wilayah berada pada kategori menengah dengan persentase mencapai 76,69 persen, diikuti kategori tinggi sebesar 21,43 persen, sangat tinggi 1,22 persen, dan rendah 0,65 persen.

1. Wilayah dengan Curah Hujan Rendah (0-100 mm/bulan):
Sulawesi Selatan: Wajo
Sulawesi Tengah: Kota Palu
2. Wilayah dengan Curah Hujan Menengah (100-300 mm/bulan):

Sumatera:

Aceh: Seluruh kabupaten/kota termasuk Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang, Pidie, Bireuen, Lhokseumawe, dan lainnya
Sumatera Utara: Seluruh wilayah termasuk Medan, Deli Serdang, Nias, Tapanuli, Labuhanbatu, dan sekitarnya
Sumatera Barat: Hampir seluruh wilayah seperti Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Pasaman, Agam, Solok
Riau dan Kepulauan Riau: Seluruh kabupaten/kota

Jambi: Seluruh wilayah

Bengkulu: Sebagian besar wilayah kecuali Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu
Sumatera Selatan: Mayoritas kabupaten/kota
Kepulauan Bangka Belitung: Sebagian besar wilayah

Jawa:

Lampung: Sebagian wilayah seperti Pesisir Barat, Lampung Barat, Tanggamus, Mesuji

Banten: Kota Tangerang dan Tangerang Selatan

DKI Jakarta: Kepulauan Seribu

Jawa Barat: Karawang, Bandung, Subang, Purwakarta, Pangandaran

Jawa Tengah: Blora dan Rembang

Jawa Timur: Ngawi, Ponorogo, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Bangkalan, dan wilayah pesisir utara

Bali dan Nusa Tenggara:

Bali: Buleleng, Jembrana, Tabanan, Badung, Bangli, Gianyar, Karangasem, Klungkung (kecuali Denpasar)

Nusa Tenggara Barat: Lombok Utara, Lombok Timur

Nusa Tenggara Timur: Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Rote Ndao, Kupang, Timor Tengah Utara, Belu

Kalimantan:

Kalimantan Barat: Sambas

Kalimantan Selatan: Banjarmasin, Tanah Laut, Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan

Kalimantan Timur: Bontang
Kalimantan Utara: Nunukan, Bulungan, Tana Tidung, Tarakan

Sulawesi:

Sulawesi Selatan: Pangkajene Kepulauan, Jeneponto, Parepare

Sulawesi Utara: Bolaang Mongondow Utara, Minahasa Selatan, Manado, Kepulauan Siau Tagulandang Biaro, Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud

Maluku dan Papua:

Maluku: Kota Tual, Maluku Tenggara
Papua Tengah: Mimika
Papua Selatan: Asmat, Merauke, Boven Digoel

4. Wilayah dengan Curah Hujan Sangat Tinggi (>500 mm/bulan):

Banten: Pandeglang

Jawa Barat: Majalengka, Kota Cirebon

Jawa Tengah: Brebes, Pemalang, Purbalingga, Pekalongan, Kota Pekalongan, Batang, Jepara, Demak, Kudus

Bali: Kota Denpasar

Nusa Tenggara Timur: Kota Kupang

Sulawesi Selatan: Takalar, Kota Makassar, Gowa, Pangkajene dan Kepulauan, Maros, Barru Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan persiapan menghadapi potensi cuaca ekstrem serta dampak yang menyertainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *