Operasional PT Weda Bay Nickel Kembali Berjalan, Meski Tenaga Kerja Dipangkas 65 Persen

Berita, Malut, Nasional15 Dilihat

JAKARTA- PT Weda Bay Nickel (WBN) resmi mengoperasikan kembali tambang nikelnya di Halmahera Tengah, Maluku Utara, setelah mengantongi persetujuan dari pemerintah Indonesia. Sebelumnya, aktivitas tambang milik konsorsium Eramet (Prancis), Tsingshan Holding Group Co (Cina), dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) ini sempat dihentikan sementara dan masuk masa pemeliharaan (care and maintenance) selama empat bulan.

​Manajemen Eramet mengumumkan bahwa pembukaan kembali kegiatan pertambangan dilakukan secara bertahap bersama para kontraktor, dengan prioritas utama pada aspek keselamatan kerja.

​”Kecepatan peningkatan produksi bergantung pada kemampuan PT WBN memobilisasi kembali kontraktor dan peralatan, menyusun ulang rencana penambangan tahunan, serta menyelesaikan pekerjaan administratif yang diperlukan,” tulis manajemen Eramet dalam keterangan resminya, Kamis (10/9/2026).

​Hingga saat ini, WBN belum menentukan estimasi volume produksi, penjualan bijih nikel, maupun target kadar nikel hingga akhir 2026. Seiring perkembangan tersebut, Eramet akan memperbarui panduan kinerja 2026 untuk penjualan eksternal bijih nikel secara berkala.

​WBN menyatakan terus berdialog secara konstruktif dengan otoritas Indonesia. Perusahaan berkomitmen menjalankan operasional secara bertanggung jawab dan berkelanjutan untuk mendukung perekonomian Maluku Utara dalam jangka panjang.

​Sebelumnya, kuota produksi WBN dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dipangkas menjadi 12 juta wet metric ton (wmt), turun drastis dari 42 juta wmt pada 2025. Kuota tersebut telah habis pada pertengahan Mei 2026, yang memaksa tambang masuk ke fase care and maintenance.

​Selama masa pemeliharaan tersebut, aktivitas produksi terhenti dan perusahaan hanya berfokus pada pengelolaan lingkungan, seperti pengolahan air, rehabilitasi lahan, dan revegetasi.

​Penurunan kuota RKAB ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet, mengungkapkan bahwa pemangkasan kapasitas produksi memaksa perusahaan merumahkan hingga 65 persen pekerja.

​”Jumlah pekerja Weda Bay Nickel beserta seluruh kontraktor mencapai sekitar 18.000 hingga 19.000 orang. Dari angka tersebut, kami melakukan pengurangan sebesar 65 persen hingga akhir Juni,” ujar Jerome dalam Exclusive Media Briefing: Eramet Outlook 2026 di Jakarta, Mei lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *