Ternate – Bea Cukai Ternate mencatatkan raport hijau pada kinerja devisa ekspor sektor non-tambang di Provinsi Maluku Utara sepanjang tahun 2025. Nilai ekspor di sektor ini mengalami lonjakan signifikan sebesar 36,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan Bea Cukai Ternate, Ary Patria Sanjaya, mengungkapkan bahwa jika pada 2024 devisa ekspor non-tambang berada di angka USD 12 juta, maka pada 2025 angka tersebut melonjak menjadi USD 16,53 juta.
“Peningkatan sebesar 36,9 persen ini merupakan sinyal positif bahwa tren ekspor non-tambang di Maluku Utara terus membaik dan menunjukkan tren positif,” ujar Ary saat ditemui di Kantor Bea Cukai Ternate, Jumat (23/1/2026).
Diversifikasi Komoditas yang Kian Beragam
Pertumbuhan ini tidak hanya terlihat dari angka devisa, tetapi juga dari keberagaman komoditas yang dikirim ke pasar global. Ary mencatat perjalanan pertumbuhan komoditas ekspor non-tambang Maluku Utara yang terus konsisten sejak 2021:
- 2021: 2 jenis komoditas.
- 2024: 5 jenis komoditas (Frozen Yellowfin Tuna, kepiting bakau, udang ronggeng, pelet kayu, dan kerapu sunu).
- 2025: Bertambah menjadi 7 jenis komoditas dengan masuknya mace (bunga pala) serta ikan pelagis dalam daftar ekspor.
“Potensi sektor non-tambang kita masih sangat besar. Selain bunga pala, ada juga komoditas lain seperti kerang dara dan produk hilirisasi kelapa yang belum tergarap maksimal,” tambah Ary.
Tantangan Logistik dan Hilirisasi
Meski mencatat pertumbuhan, Ary menggarisbawahi tantangan klasik yang masih dihadapi, yakni masalah logistik. Ia mencontohkan komoditas kelapa yang hingga kini proses ekspornya masih harus melalui Surabaya, bukan langsung dari Maluku Utara.
“Tantangan utama kita adalah membangun sistem logistik yang efisien. Kami terus mendorong penguatan infrastruktur agar distribusi ke pasar internasional lebih lancar,” jelasnya.
Menatap tahun 2026, Bea Cukai Ternate optimistis dapat melampaui target ekspor tahunan. Ary menegaskan komitmen pihaknya untuk terus memberikan pendampingan bagi para pelaku usaha agar mampu bersaing di pasar global.
“Kami ingin lebih banyak pelaku usaha lokal yang ‘naik kelas’ menjadi eksportir, sehingga kemandirian ekonomi Maluku Utara tidak hanya bertumpu pada sektor tambang semata,” pungkasnya.






