KAWASI – Di Pulau Obi, matahari seolah berdiri lebih rendah. Deru mesin alat berat dan hiruk-pikuk smelter adalah detak jantung yang tak pernah berhenti. Namun, ketika Ramadan tiba, ada sesuatu yang melunak di tengah kerasnya industri nikel. Di antara peluh dan debu, waktu istirahat kini bertransformasi menjadi ruang sakral, di mana tegur sapa antarpekerja menjadi bahan bakar semangat yang tak tampak mata.
Bagi ribuan karyawan di Harita Nickel, Ramadan adalah ujian ketahanan fokus yang sesungguhnya. Di sinilah Fadli Wahda—atau yang akrab disapa Akha—hadir. Ia bukan sekadar pengawas dengan buku catatan di tangan; ia adalah pengingat nurani bagi rekan-rekannya.
Lulusan Teknik Pertambangan Universitas Muhammadiyah Ternate ini paham betul bahwa di industri berisiko tinggi, kesalahan sekecil apa pun bisa mengubah tawa menjadi duka. Sejak memulai karier di Buli pada 2018, Akha belajar satu prinsip penting: keselamatan bukan sekadar lembar ceklis di atas kertas, melainkan kemampuan membaca bahasa tubuh manusia.
Saat bergabung dengan Harita Nickel pada 2019 sebagai Field Safety, ia terjun ke pusaran konstruksi yang padat. Di tengah target yang mengejar, Akha memilih pendekatan yang membumi. Baginya, meminta seorang pekerja berteduh sejenak atau menegur mereka yang tampak lunglai karena kelelahan (fatigue) adalah sebuah misi kemanusiaan.
”Tidak cukup hanya ceklis. Kita harus memastikan teman-teman tetap sadar akan batas tubuhnya, apalagi saat pola tidur berubah karena puasa,” ungkapnya tenang.
Kini, sebagai OHS Monitoring Supervisor, tanggung jawabnya meluas. Namun, Akha tetaplah Akha. Ia menerjemahkan kebijakan keselamatan yang rumit menjadi perhatian yang sangat personal:
Mengingatkan pentingnya asupan gizi saat sahur.
Memastikan hidrasi yang cukup saat berbuka.
Mendorong keberanian untuk jujur melapor jika kondisi fisik mulai menurun.
Bagi Akha, keselamatan adalah budaya yang lahir dari rasa sayang antarmanusia, bukan sekadar ketakutan pada sanksi perusahaan.
Pandangan ini selaras dengan Muchlis Ibrahim, Koordinator Konsorsium Advokasi Tambang (KATAM) Maluku Utara. Menurutnya, Ramadan adalah momentum puncak kepedulian di sektor tambang.
“Keselamatan kerja tidak boleh kendor. Justru ini momentum untuk saling menjaga, agar para karyawan bisa bekerja dengan baik dan kembali berkumpul bersama keluarga tercinta saat Idulfitri nanti,” ujar Muchlis.
Di balik seragam safety dan helm kerasnya, Akha menyimpan filosofi yang mendalam. Ramadan di area tambang adalah tentang mengelola lelah demi sebuah janji yang suci kepada orang-orang di rumah.
Kisah Akha adalah pengingat bahwa di balik deru mesin dan bongkahan nikel, ada rindu yang harus dituntaskan. Pada akhirnya, prestasi tertinggi seorang pekerja tambang bukanlah seberapa banyak target yang tercapai, melainkan langkah kaki yang melintasi pintu rumah dalam keadaan selamat, disambut senyum hangat keluarga yang telah lama menanti. (Red)







