HALSEL- Perhatian terhadap kualitas air dan kebutuhan air bersih masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaan lingkungan di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Untuk memperkuat akses warga terhadap air bersih, Pemerintah Desa Kawasi bersama Harita Nickel membangun fasilitas pengolahan air berbasis Reverse Osmosis (RO).
Pembangunan fasilitas tersebut melengkapi Water Treatment Plant (WTP) yang telah beroperasi dan menyalurkan air kepada masyarakat. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem penyediaan air bersih bagi warga, sekaligus mendukung keberlanjutan layanan dalam jangka panjang.
Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Halmahera Selatan, Soleman Bobote, menjelaskan bahwa teknologi RO dan membran dapat digunakan dalam sistem pengolahan air untuk meningkatkan kualitas air baku. Menurutnya, penerapan teknologi tersebut relevan untuk mendukung kebutuhan air bersih masyarakat.
Fasilitas RO yang dibangun di Kawasi dirancang memiliki kapasitas pengolahan air baku sekitar 40 meter kubik per hari. Sistemnya menggabungkan teknologi RO, filtrasi otomatis, dan ozonisasi sebagai bagian dari tahapan pengolahan air sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Soleman menjelaskan bahwa sistem pengolahan air di PDAM Halmahera Selatan juga menggunakan teknologi RO dan membran. Penerapan teknologi tersebut di Kawasi menjadi salah satu upaya untuk memperkuat layanan air bersih bagi masyarakat di sekitar kawasan industri.
*Memenuhi Kebutuhan Warga*
Warga Desa Kawasi, Ahmad Sabar, mengatakan penyediaan fasilitas pengolahan air diharapkan memperkuat akses masyarakat terhadap air bersih dalam jangka panjang. Ia juga menekankan pentingnya menjaga sumber air yang telah digunakan warga selama bertahun-tahun.
“Yang paling penting bagi masyarakat tentu bagaimana menikmati air bersih dan tetap tersedia serta kualitasnya terjaga. Pembangunan fasilitas reverse osmosis ini sebagai langkah untuk mendukung kebutuhan warga sekarang dan ke depannya,” ujar Ahmad.
Menurut Ahmad, keberlanjutan manfaat fasilitas tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada pemeliharaan dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga sumber air.
Di Kawasi, sumber air masyarakat dan kebutuhan industri berasal dari lokasi yang berbeda. Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Tri Edhi Budhi Soesilo, sebelumnya menjelaskan bahwa air masyarakat bersumber dari mata air Kawasi, sedangkan kebutuhan industri dipenuhi dari Danau Karo.
Dalam observasi lapangan di mata air Todoku atau mata air Kawasi pada tahun sebelumnya, Budhi mencatat sejumlah upaya pengelolaan, termasuk perlindungan daerah tangkapan air, pembangunan jaringan pipa distribusi ke permukiman, dan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber air.
“Menjaga sumber air tentu dapat diupayakan, bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam. Menurut saya, berbagai upaya pengelolaan air oleh perusahaan itu sudah memadai,” ujar Budhi.
Pengujian yang dirujuk dalam observasi tersebut mencatat nilai pH sebesar 7,87 dan kadar kromium heksavalen (Cr-VI) di bawah 0,005 miligram per liter. Hasil tersebut menggambarkan kondisi sampel pada lokasi dan waktu pengambilan yang bersangkutan.
Penguatan akses air bersih di Kawasi pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas pengolahan. Perlindungan sumber air, pemeliharaan infrastruktur, dan pemantauan kualitas secara berkala juga menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan layanan bagi masyarakat.[]





