Bulog Catat Rekor Cadangan Beras 5,4 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Berita, Nasional1 Dilihat

TAPANULI SELATAN- Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mencatat cadangan beras nasional pada 2026 mencapai puncaknya hingga 5,4 juta ton. Capaian ini menjadi rekor stok beras tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

​“Alhamdulillah, tahun ini kami laporkan puncak stok Bulog mencapai 5,4 juta ton. Ini merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka,” ujar Rizal dalam diskusi bertajuk “Kemandirian Pangan Fondasi Kedaulatan Bangsa” yang diikuti secara daring dari Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (8/10/2026).

​Hingga 6 Oktober 2026, realisasi penyerapan beras Bulog telah menyentuh 4,09 juta ton. Angka tersebut melampaui target yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto sebesar 4 juta ton.

​Rizal menjelaskan, penumpukan stok beras ini diproyeksikan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi krisis iklim dan ancaman fenomena El Nino. Bulog memastikan distribusi beras menjangkau seluruh pelosok negeri.

​“Stok harus terdistribusi dari Sabang sampai Merauke, serta dari Miangas hingga Rote. Penyaluran dilakukan melalui 26 kantor wilayah dan 544 kantor cabang untuk menjamin kepastian harga standar pemerintah di masyarakat,” jelasnya.

​Selain itu, Bulog berkomitmen terus menyerap gabah petani sepanjang 2026 untuk menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani. Sesuai instruksi presiden (inpres), harga pembelian gabah petani ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram untuk seluruh tingkatan kualitas.

​DPR Apresiasi Ketersediaan Pangan

​Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menilai besarnya cadangan beras nasional yang dikelola Bulog ampuh meredam kekhawatiran publik terkait isu kelangkaan bahan pokok.

​Menurut Titiek, kecukupan cadangan pangan menjadi faktor krusial dalam menjaga pasokan sekaligus mengendalikan lonjakan harga di pasar. Stok yang berlimpah juga memberikan ruang aman jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan permintaan atau gangguan rantai pasok.

​Ia turut mengapresiasi kapasitas produksi beras dalam negeri yang dinilai mampu menopang kebutuhan nasional, sehingga ketergantungan terhadap beras impor dapat terus ditekan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *